12 novembro 1991



12 November 2019. Pagi ini saya dibangunkan oleh bunyi alarm yang sudah menjadi pengingat otomatis setiap pagi. Meski masih dalam keadaan kantuk dan masih ingin untuk memanjakan diri di tempat tidur, saya harus berusaha untuk menyemangati diri saya sendiri. Hari baru dengan semangat baru tentu dengan harapan baru. Sebelum beranjak dari tempat tidur, mengayunkan langkah dan memupuk semangat untuk bersiap diri ke kantor, saya menyempatkan diri untuk membuka salah satu media sosial (facebook). Saya yakin bahwa kita semua akan melakukan hal yang serupa seperti yang saya lakukan sebelum mempersiapkan diri untuk melakukan aktivitas. Yah, menggenggam handphone di tangan dan mencoba untuk berpetualangan dalam dunia maya, hehehe. Saat membuka facebook dengan tujuan untuk melihat pemberitahuan dan informasi baru yang muncul di ruang pemberitahuan, saya mencoba untuk men-scroll beberapa status, iklan, berita yang muncul dalam news feed saya. Gerakan jempol yang menari di atas screen handphone rupanya sudah terpola dengan baik. Status demi status yang muncul dalam news feed saya seolah-olah dimainkan dan diupdate oleh orang sama namun berbeda akun pemilik. "Hari ini libur". Sebuah kalimat yang tertulis dengan jelas dan nyata dilihat ini sempat membuat saya berpikir demikian. Sejenak, saya memalingkan pandangan saya dari status-status tersebut, menatap dengan tujuan yang jelas dan mencoba untuk berpikir. Ada apa dengan hari ini? Mencoba menenangkan pikiran dan mengingat peristiwa/hari raya apa yang terjadi pada 12 November. Dan setelah meluangkan waktu untuk membiarkan otak untuk me-recall/mengingat peristiwa yang terjadi pada tanggal 12 November, saya pun mengingat bahwa hari ini merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi kami pemuda warga negara TL. 

12-11-1991 ditetapkan sebagai hari Nasional Pemuda Timor-Leste. Dan pada hari ini, 12-11-2019, kami memperingati hari yang penuh sejarah itu. Hari dimana para Pemuda yang mungkin dengan semangatnya kala itu menyuarakan apa yang harus dan pantas didapatkan oleh kami para penghuni tanah kami tercinta TL. Saya yakin bahwa mereka adalah perwakilan dari "voice of the voiceless". Hari ini juga membawa saya untuk mengingat pada sebuah memori lama yang saya alami pada tahun 2016 silam saat saya duduk dan mendengar suara TV yang melaporkan tentang kejadian yang terjadi pada tahun 1991. Saya bersyukur setidaknya bisa mendengar dan tahu apa sebenarnya  yang terjadi saat itu. Saya melihat dan mendengar dengan jelas seorang Mantan Journalist asal America sedang berbicara. Dia merupakan salah satu mantan journalist yang sempat merekan kejadian pembunuhan massal oleh TNI terhadap para Pemuda Timor-Leste pada tahun 1991 di Semiterio, St. Cruz-Dili. Dan tepat hari ini pada tanggal yang sama dengan tempat, waktu, dan hari yang beda, dia diberikan kesempatan untuk menceritakan kembali kronologi pembunuhan kala itu. Ada banyak hal yang dia ceritakan tentang peristiwa yang merenggut nyawa besar-besaran saat itu, namun satu kalimat yang selalu membekas dalam ingatan saya adalah "Para penjahat itu seperti Prabowo dan Wiranto perlu diadili karena mereka telah melakukan pembunuhan masal, tidak ada pertanggungjawaban atas kejadian tersebut, Hukum Internasional sepertinya tidak berlaku di mata PBB, karena Presiden A.S waktu itu otaknya seperti Eurico Guterres si milisi itu", katanya. Rekaman video itulah merupakan salah satu bukti nyata pelanggaran HAM terbesar atas pembunuhan masal yang dilakukan oleh TNI terhadap pemuda Timor-Leste. Saat disuruh untuk ditayang oleh journalist tersebut di New York. Video itu  menjadi salah satu faktor pendukung bagi PBB untuk memutuskan dua opsi kepada rakyat TL bahwa merdeka atau tetap bersama Indonesia ada pada keputusan rakyat TL itu sendiri.

Setiap manusia tentunya ingin hidup bebas tanpa ada tekanan atau ditekan dan dikekang. Kita tentunya menginginkan hidup yang mungkin lebih sejahtera tanpa kemiskinan, kekuasaan, dan hinaan. Kita pantas untuk mendapatkan apa yang menjadi milik kita selagi itu tidak merebut dan mengambil apa yang sudah menjadi hak orang lain. Berdamailah dengan sesama, lingkungan, dan tentunya diri kita sendiri. Ingat, dimata Tuhan kita adalah sama. Kekuasaan hanyalah milik manusia di bumi bukan diakhirat.

Komentar