Pengalaman buruk remaja menjadi motifasi nikmat di hari tua




Nikmat berarti asyik karena kalau sudah asyik yang pastinya nikmat. Kata "nikmat sangat sulit untuk didefenisikan secara spesifik karena setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menikmati kenikmatan sehingga beda pula cara untuk menjelaskannya. Ibaratnya, jika kamu diminta untuk menjelaskan atau mendeskripsikan bagaiman cahaya itu datang kepada seorang yang buta maka setiap orang akan mempunyai caranya sendiri untuk menjelaskannya. Seperti yang kita tahu bahwa setiap orang pasti ingin merasakan kenikmatan meski hanya dalam durasi waktu yang sangat singkat. Dalam tulisan kali ini, saya akan men-sharing kan sedikit pengalaman pribadi saya tentang "kenikmatan" berdasarkan realitas/pengalaman pribadi.

Saat itu ketika saya menghabiskan beberapa waktu untuk tinggal dan hidup di asrama, ada banyak kejadian yang saya alami. Kurang lebih dua bulan lamanya saya hidup bersosialisasi dengan teman-teman yang datang dari latar belakang keluarga yang berbeda namun tetap kami dididik dan diajar dengan cara yang sama. Seperti yang kita tahu bahwa yang namanya asrama tidak pernah terlepas dari segala macam aturan dan rutinitas yang menjenuhkan. Dari aturan bangun pagi, makan, belajar dan kerja pun semuanya diatur. Bisa dibayangkan kehidupan yang dijalani dengan cara seperti itu? Bahkan benda mati pun mempunyai hak untuk mengatur (Bel/lonceng asrama).

Ketika rutinitas sudah menjerat, ada keinginan untuk berontak atau mencari kebebasan. Salah satu cara yang bisa kami lakukan untuk menyenangkan diri kami adalah melalui "hunting". Cara yang kami lakukan tidak jauh berbeda dari cara bagaimana para militer melakukan strategi peperangan pada masa perang. Di sinilah perjalanan kami dimulai. Saat saya dan kawan-kawan berjalan menyusuri semak duri, melewati pagar dan sungai kecil serta tak lupa membawa sebuah plastik kosong sebagai persiapan untuk menyimpan bekal yang kami dapat ketika perut mulai keroncongan selama dalam perjalanan menyusuri semak-semak. Target pertama pun kami dapat. Saat menyusuri jalan yang berliku-liku serta harus berlawan dengan semak duri yang seolah-olah mengatakan bahwa mereka ingin untuk tetap hidup, dari kejauhan kami melihat sebuah pohon mangga dengan buah yang terlihat segar untuk dinikmati milik penduduk sekitar. Saat itu juga otak kami dipicu untuk berpikir lebih keras bagaimana caranya untuk mendapatkan buah mangga yang sedang bergantungan di pohon. Aksi yang kami lakukan tanpa terencana, masing-masing dari kami mencoba untuk menengok ke arah yang berbeda dengan tujuan memastikan bahwa keadaan/situasi dalam keadaan aman. Dengan kerjasama yang baik dan tanpa banyak bicara kami sudah saling mengerti dan mengetahui apa yang akan kami lakukan. Ini seakan-akan memberikan kode/tanda secara tidak langsung.
Rasa takut sudah pasti ada namun tidak bagi para sersan yang sudah lihai dan mahir karena kebolehan yang mereka punya. "Awas, sembunyi!" Kata-kata ini secara tiba-tiba keluar dari mulut saya ketika melihat seorang lelaki yang sedang berjalan melewati daerah sekitar tempat kami berada. Namun rupanya dia bukan orang jahat seperti yang kami kira. Dia adalah seorang tukang kebun yang pekerjaan sehari-harinya adalah mengurus dan menjaga kebun. Perasaan kami sudah semakin tak karuan, hati pun mulai tak tenang. "Kalau sudah dapat buahnya, cepat dibawa pergi", kata lelaki itu. Sungguh kalimat ini tidak pernah kami bayangkan akan keluar dari mulutnya. Benar-benar diluar dugaan kami. Dengan cepat hasil buruan diambil dan dimasukan ke dalam plastik lalu pergi meninggalkan tempat itu seperti yang dikatakan oleh tukang kebun tersebut. Dia berusaha menyelamatkan kami dengan caranya meskipun kami tahu bahwa yang kami lakukan adalah perbuatan yang tidak terpuji.

Setelah memuaskan keinginan kami untuk berontak dengan cara berburu, kami memutuskan untuk kembali ke asrama. Sesampainya di asrama, kami harus melewati gerbang utama yang dijaga ketat oleh petugasnya. Kami mencoba untuk melewati gerbang itu dengan system kode. Kami mencoba menyuruh salah satu teman kami yang dibilang sedikit alim untuk mendekat dan bertindak seolah-olah baru kembali dari kegiatan lari sore. Strategi yang kami gunakan ini cukup berhasil. Dia pergi dan memberi tanda yang sudah di atur untuk bisa melewati gerbang utama itu. Dengan selamat kami berhasil masuk ke dalam asrama tempat kami berpacu dengan segala aturannya.

Jika seandainya waktu itu kami ketahuan mengambil hasil kebun orang tanpa meminta, mungkin kami akan dipanggil oleh si pemilik kebun untuk dimarahi dan dihukum. Hukuman dan amarah yang kami dapat harus bisa kami terima karena memang ini merupakan kesalahan kami sendiri. Bagi beberapa pemberontak, dimarahi atau dihukum sudah menjadi hal biasa yang mereka dapatkan. Yang mereka pikir hanyalah berbuat baik atau tidak berbuat baik sama saja. Mungkin ada beberapa orang yang tidak dikasih kesempatan untuk memperbaiki reputasi dengan alasan yang kurang jelas. Orang seperti ini kebanyakan akan tetap bertahan untuk melakukan hal yang sama.

Pengalaman ini tidak ada alasan lain selain sekedar mendapatkan kesenangan atau kenikmatan karena hasilnya tidak akan membuat perut kenyang, meskipun kenyang juga tapi bukan  setiap hari. Sama sekali tidak!! Justru pengalaman ini mengajarkan kita keberanian dengan melakukan hal kecil demi mendapatkan sesuatu yang lebih besar dibanggakan.

Pengalaman seperti ini pun bisa   jadi bahan cerita dengan keluarga di rumah.  Soalnya mereka juga pasti ikut tertawa. Secara tidak langsung itu sudah menjadi pujian, Memang, secara formalitas mereka pasti kasih nasehat ITU dan INI. Yah wajarlah, barangkali itu dikakukan karena sudah menjadi tugas mereka. Tapi secara tersirat sebagian besar dari hati nurani mereka pasti setuju juga dan senang kalau melihat anaknya senang. Asal jgn keterlaluan.

Pengalaman di atas juga merupakan suatu perjuangan. Perjuangan itu bisa dijadikan sarana untuk menemukan jati diri. Kita tentu senang berhadapan dengan yang namanya tantangan, karena melalui tantangan kita semakin mengerti siapa diri kita sebenarnya. Kalau tantangan dalam hal studi itu kan sudah biasa dan bosanlah. Hunting adalah salah satunya yang pernah saya  dan teman pernah melakukannya dan akhirnya bisa menjadikannya motivasi diri bahwa semakin kita melakukan suatu perjuangan, semakin pula canggih dlm melakukanya. Masalahnya, kalau si musuh sudah mengerti siasat kita, dia pasti membuat strategi pertahanan yang baru lagi maka dari situ kita pun dituntut untuk lebih kreatif lagi.

Bagaimana dengan dosa? Kalo pengen kenikmatan tidak perlu banyak berpikir tentang dosa. Namanya refreshing. Jadi yang dipikirkan dan yang diusahankan itu yang enak-enak saja. Jangan pikir yang lain nanti tidak kesampaian gara-gara kepikiran. Yah mengertilah yang namanya HUNTING itu dosa karena merugikan orang lain dan kita sendiri,  jadi sante saja masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Lagian, yang begituan selagi masih remaja apasalahnya dilakukan? Yang masih remaja itu masa yang pantas untuk melakukan hal yang aneh-aneh, yang justru tidak pantas kalau dikakukan org dewasa seperti saya sekarang ini. Jadi untuk kamu yang masih remaja, sempatkanlah! Biar bisa jadi bekal di hari tua, bisa jadi pengalaman yang tidak hanya buat ketawa sendiri tapi juga jadi bahan cerita untuk anak cucu. Lihat dan perhatikan orang tua kita, mereka biasanya senang ketika menceritakan kenakalan pada saat usia remaja dulu. Kita juga pasti demikian, kan?.

Apa salahnya mencari kenikmatan??
Mungkin ini merupakan kenikmatan sementara yang didapat dengan cara yang tidak lazim. Aturan tetap benda mati, masa depan adalah apa yang kita lakukan hari ini. Hidup jangan bergantung pada kata-kata orang. Apa yang mereka katakan cukup sebatas didengarkan saja. Kita memang hidup di masyarakat tetapi hidup di tengah masyarakat bukan berarti menggantungkan hidup sepenuhnya di tangan mereka. Meyakini hidup dan kebenaran sesuai dengan kehendak-Nya. Seperti kata orang "jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa tetapi hanya kamu sendiri yang menangis, dan pada kematianmu semua orang menangis sedih tetapi hanya kamu yang tersenyum". Jadi, jangan lupa bahwa di dalam hidup ini kita pernah membuat orang tertawa senang dan menangis sedih  karena kehadiran kita di dunia ini. Hidup sempurnah pun datang dari kesalahan dan perbaikan secara terus menerus.

Komentar