Ternyata Bapak masih hidup


Cerita ini berawal saat saya dan beberapa teman sekantor diutus oleh atasan untuk menghadiri acara peletakan batu pertama dari proyek pertanian terbaru di suatu daerah pada tanggal 13 Spetember 2019 yang lalu. Saat itu, saya melihat ada rombongan tamu terhormat yang juga turut berpartisipasi dalam acara tersebut. Mereka adalah veteran Australia. Mereka adalah orang-orang hebat yang pernah menyelamatkan kerusuhan Timor-Leste di awal tahun 2000an.
Sebagai salah satu bagian dari antara mereka yang hadir, saya memilih untuk duduk ditengah-tengah partisipan dengan maksud untuk bisa mengetahui apa saja yang akan terjadi dalam proses peletakan batu pertama. Acara pun dimulai. Dengan tenang dan penuh konsentrasi saya melihat dan menyaksikan acara tersebut sampai selesai dan semuanya terselesaikan dengan sukses meski ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Yah namanya juga manusia, sangat jauh dari kesempurnaan.
Detik demi detik berlalu, proses demi proses kami lewati dan acara pun selesai. Setelah mengikuti acara peletakan batu pertama, kami semua diarahkan untuk mengikuti santap siang bersama. Saat makan siang berlangsung, saya melihat salah satu bule yang nota benenya adalah tamu terhormat datang menghampiri meja makan kami untuk makan bersama. Dalam pikiran saya saat itu juga terlintas pemikiran seperti ini "Kok bisa yah orang terhormat seperti dia memilih untuk makan bersama kami?". Saat itu juga rasa ingin tahu saya muncul dan saya berdiri beranjak menjauh untuk melihat orang tersebut. Ternyata dia adalah orang tua. Sontak pikiran saya berasumsi bahwa "Mungkin dia tidak ingin makan makanan yang mangandung bahan kimia dan selalu ingin mencoba produk lokal, mengingat usianya yang semakin senja. Apalagi mereka berasal dari luar negara kami, pasti memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi terhadap produk lokal kami".
Saya lalu duduk kembali dan memperhatikan dia secara diam-diam. Penampilannya sangat sederhana. Ia bertindak seperti Ayah saya sewaktu masih hidup. Dia membuat saya seolah-olah sedang menatap Ayah saya dalam dunia yang sama. Seketika itu juga, saya sangat tertarik dengannya dan ingin sekali untuk mengambil gambar bersamanya. Saya berusaha mencari cara agar bagaimana untuk bisa mengambil gambar bersamanya mengingat dia merupakan salah satu tamu terhormat yang hadir dalam acara tersebut. Akhirnya, saya mencoba mendekati salah satu atasan dan berbincang-bincang dengannya dengan tujuan bila dia (Veteran Australia) mendekat nanti, saya bisa mengambil gambar dengannya. Rupanya Tuhan tahu apa yang saya inginkan. Saat itu juga dia datang menghampiri kami. Tanpa berbasa-basi lagi, dengan sontak saya berkata "Mr. can I take a picture with you?." Lalu jawabnya "Yah...yah.. You can". Setelah mengambil foto dengannya, terdengar lah sebuah pertanyaan yang keluar dari mulutnya, katanya "Why you want to take a picture with me?" Saya lalu menjawab pertanyaannya "Because you're very attractive, so humble. You remind me of my father, my father has pass away and your behaviour is the same as my father".  
Pertemuan kami cukup singkat namun berarti bagi saya. Sebelum mengakhiri pertemuan singkat ini, kami saling berpelukan. Pada keesokan harinya disuatu malam, saya berdoa kepada Tuhan mengucap syukur dan terimakasih kepada-Nya karena Ia telah mempertemukan saya dengan orang tersebut dan menghapus rasa kehilangan sosok Ayah saya melalui kehadiran orang (veteran Australia) tersebut. Sejak saat itu pun rasa sedih saya mulai menghilang karena saya yakin dan percaya bahwa Ayah saya tidak kemana-mana, dia selalu dan selamanya bersama saya. Meski raga terpisah jauh namun hati kami selalu dekat. Dan saya percaya bahwa Ayah  telah mendengarkan dan mengabulkan rasa rindu yang panjang melalui dia (veteran Australia) yang tak sengaja saya jumpai kemarin. Terimakasih Tuhan, terimakasih Ayah dan terimakasih untuk kamu yang telah hadir dan menghapus rasa kehilangan ini.
😢😢😢🙏🙏🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12 novembro 1991